Hampir Tak Ada Bau Langu Edamame Biomax untuk Peningkatan Gizi dan Ekspor_

Posted by Kumar Eaton on June 17th, 2021

SariAgri - Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melepas dua Varietas Unggul Baru (VUB) edamame yaitu Biomax 1 dan Biomax 2. Diharapkan dua VUB edamame yang dirilis dapat memberikan sumbangan pada gizi masyarakat, pendapatan petani dan ekspor. Biomax 1 dan Biomax 2 ditetapkan sebagai VUB berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 344/Kpts/SR.130/D/IV/2021 dan 344/Kpts/SR.130/D/IV/2021 tanggal 26 April 2021 tentang Tanda Daftar Varietas Tanaman Hortikiltura Kedelai Sayur (Edamame). Menurut laman Balitbangtan, dua VUB yang dirilis Balitbangtan ini memiliki beberapa keunggulan. Kelebihan Biomax 1 memiliki ukuran polong besar dan produktivitas tinggi. Biomax 1 memiliki bobot polong muda 332,34-39,89 gram/100 polong dan produktivitas polong muda total 10,35-14,65 ton/hektare. Baca Juga: Lima Orangutan Dilepasliarkan di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya Bappebti Ungkap Hambatan Pertumbuhan Sistem Resi Gudang Berbeda dengan Biomax 1, Biomax 2 memiliki produktivitas polong muda lebih tinggi 8,51-16,39 ton/hektare serta memiliki bobot polong muda 298,63-355,89 gram/100 polong. Peneliti Balitbangtan Asadi mengungkapkan berbeda dengan varietas  pada umumnya, jika direbus Biomax 1 dan Biomax 2 memiliki rasa agak manis. “Salah satu yang menentukan kualitas edamame itu kan bau langu ya, kedelai ini bau langunya hampir tidak ada,” ujarnya di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balitbangtan, Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BB Biogen) Bogor. Asadi mengatakan saat ini Balitbangtan melalui BB Biogen sedang memperbanyak benih di Cisarua, Jawa Barat dan Jember, Jawa Timur. Hasil perbanyakan benih nantinya akan tersedia di BB Biogen untuk dikembangkan lebih lanjut oleh instansi pemerintah, perusahaan swasta maupun penangkar benih di berbagai daerah. Media Pertanian Indonesia Sementara itu, Kepala BB Biogen, Mastur menjelaskan arah dan strategi pengembangan edamame akan dilakukan melalui dua jalur. Pertama, jalur public domain yaitu pengembangan oleh petani kecil seperti sekitar wilayah Jabodetabek untuk pemasaran domestik dalam rangka penguatan gizi rakyat (terutama protein) dan retail dan kuliner modern. Cara ini akan didukung Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) di setiap provinsi. Kedua, jalur lisensi dan komersialisasi benih yang selanjutnya dikembangkan oleh perusahaan bereoriantasi ekspor seperti di Jawa Timur. “Diharapkan varietas ini dapat berkembang di beberapa provinsi seperti Jateng, Jabar, DIY, juga beberapa kota besar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Bali,” kata Mastur. Dia menambahkan, saat ini benih kelas breeder seed (BS) atau label kuning sedang diperbanyak dan hasilnya akan didistribusikan ke BPTP dan mitra penangkar. Kepala Balitbangtan Fadjry Djufry dalam berbagai kesempatan mengatakan pihaknya terus menunjukan komitmennya dalam mendukung ketahanan pangan dan ekspor melalui berbagai teknologi yang dihasilkan. Salah satu bukti dukungan itu ditunjukkan dengan pelepasan Biomax 1 dan Biomax 2.

Like it? Share it!


Kumar Eaton

About the Author

Kumar Eaton
Joined: June 17th, 2021
Articles Posted: 1