Tips Mendapatkan Beasiswa Kuliah

Posted by beasiswas1 on October 13th, 2019

Salah satu cara untuk mewujudkan impian kuliah S2 di luar negeri adalah dengan melamar beasiswa. Erasmus Mundus (Uni Eropa), Fullbright (Amerika Serikat), Chevening (Inggris), StuNed (Belanda), dan Australia Awards Scholarship (Australia) adalah beberapa beasiswa yang bisa Anda jajal. Indonesia sendiri memiliki program Beasiswa Pendidikan Indonesia yang dikelola oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Tentunya, meraih beasiswa tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Sebagai catatan, untuk beasiswa Chevening di tahun 2018 terdapat 4.500 pelamar dari Indonesia. Dari jumlah ini, panitia Chevening Indonesia pun menyaring 200 orang untuk diundang interview, hingga akhirnya terpilih 70 penerima beasiswa. Lalu apa yang harus dilakukan agar Anda bisa menjadi satu di antara penerima beasiswa? Ini 5 langkah yang harus dilakukan, yang merupakan masukan dari para penerima beasiswa.

IELTS sebagai pembuka

Salah satu syarat untuk kuliah di luar negeri adalah pelamar memiliki sertifikat kemampuan bahasa Inggris, contohnya IELTS. Jadi sebelum mulai melamar, pastikan Anda mengambil tes IELTS akademik (biaya tes Rp 2.850.000). Rata-rata kampus di Eropa, Australia, dan Amerika Serikat mengharuskan pelamar memiliki IELTS 6,5, namun bisa lebih karena tergantung tiap program studi.

“IELTS ibaratnya adalah sebuah investasi. Jika Anda mendapatkan skor yang baik, maka Anda bisa memanfaatkannya untuk melamar berbagai beasiswa. IELTS hanya memiliki masa berlaku 2 tahun jadi cobalah melamar beasiswa sebanyak mungkin di periode ini,” ujar Putri Lestari, peraih beasiswa Erasmus Mundus 2017 yang kini sedang mengambil Master of Adult Education for Social Change di 3 negara (Skotlandia, Malta, dan Estonia).

Benang merah antara pekerjaan dan jurusan

Selanjutnya tentukan jurusan apa yang akan Anda ambil. Pelajari betul mengenai jurusan tersebut, mulai dari mata kuliah yang disediakan, ekstrakurikuler yang ada, hingga dosen pengajar. “Pastikan Anda tahu detail tentang program studi yang diinginkan sehingga ketika ditanya saat interview Anda bisa menjawab dengan jelas,” ujar Indah peraih beasiswa Australia Awards Scholarship 2014 yang mengambil Master of Strategic Public Relation di The University of Sydney, Australia.

Baca juga: Beasiswa Untuk Mahasiswa S1

Ingin Melanjutkan Kuliah S2 di Luar Negeri? Coba Beasiswa Ini!

Sebaiknya program studi yang akan Anda ambil sejalan dengan pekerjaan saat ini. “Strategi utama adalah memperlihatkan benang merah antara pengalaman kerja, background pendidikan, dan kegiatan non-kurikuler. Anda harus tahu betul alasan mengambil jurusan tersebut, kenapa ilmunya dibutuhkan di masa depan, dan menyempurnakannya dengan latar belakang yang solid. Dengan begitu, Anda akan lebih mudah membuat argumentasi kenapa pemberi beasiswa harus membiayai kuliah S2 Anda,” ujar Alif Edris yang mengambil Master of Marketing Intelligence di University of Groningen, Belanda, melalui beasiswa StuNed di tahun 2017.

Bikin timeline

Proses melamar beasiswa tidaklah singkat. Oleh karena itu, akan lebih baik jika Anda membuat timeline agar tidak ada hal yang terlewatkan. “Dulu saya membuat timeline yang terdiri atas jadwal tes IELTS, jadwal melamar program studi di kampus incaran, dan jadwal melamar beasiswa LPDP termasuk deadline membuat esai,” jelas Puji Maharani, peraih beasiswa LPDP 2015 yang mengambil Master of Gender Studies di SOAS University of London, Inggris.

Surat referensi sama pentingnya dengan motivation letter

Esai memegang peranan penting saat Anda melamar beasiswa. Apalagi jika proses seleksi dari beasiswa yang Anda lamar hanyalah berdasarkan dokumen dan motivation letter alias tanpa interview. Contohnya, beasiswa StuNed, Erasmus Mundus, dan Swedish Institute Study Scholarship. Nasib Anda ditentukan oleh esai!

“Inilah momen Anda ‘menjual’ diri. Ungkapkan hal-hal positif tentang diri Anda dan hal yang telah Anda lakukan selama ini untuk masyarakat. Berikan contoh konkret sehingga pembaca esai Anda dapat membayangkan seberapa tangguh Anda ketika menghadapi masalah dan seberapa hebat pengalaman kepemimpinan Anda. Lalu kaitkan hal ini dengan program studi incaran, bagaimana program ini akan membantu Anda untuk lebih berkontribusi di kemudian hari,” ujar Putri.

Beasiswa juga mengharuskan pelamar meyiapkan surat referensi—setidaknya dari dua orang. Ini faktor yang tidak kalah pentingnya dalam menentukan nasib Anda. “Pilih orang yang benar-benar mengenal Anda, seperti atasan langsung atau tim organisasi yang Anda ikuti. Pastikan fakta tentang Anda yang ditulis di motivation letter berbeda dengan fakta yang ditulis oleh penulis referensi. Dengan begitu, juri yang menilai bisa memperoleh gambaran positif yang lebih beragam tentang Anda,” tambah Putri.

Miliki tandem

Kesuksesan meraih beasiswa tidak bisa diraih seorang diri. Anda harus mencari mentor alias alumni untuk ditanyakan tentang pengalaman mereka, maupun mencari tandem untuk belajar bersama.

“Akan sangat membantu jika ada pihak ketiga yang terbiasa me-review dokumen-dokumen Anda, termasuk esai. Dengan begitu, ia dapat memberi masukan terhadap kata-kata yang digunakan dan bisa melihat apakah Anda berbelit-belit atau tidak. Sesuaikan apa yang Anda miliki dengan nilai-nilai yang pemberi beasiswa angkat, seperti equality, leadership, atau sustainability,” jelas Ilona Asa yang meraih beasiswa Swedish Institute Study Scholarship 2016 untuk program studi Master of Computer Science di Uppsala University, Swedia.

Puji juga memberikan komentar mengenai pentingnya memiliki tandem belajar. “Hampir tiap hari ketika pulang kantor saya bertemu teman yang sama-sama pengejar beasiswa. Menjelang tes IELTS, misalnya, kami latihan bersama. Begitu juga saat menulis esai untuk beasiswa—memiliki editor sangatlah penting.”

Siap melamar beasiswa dan kuliah lagi?

Link To Directory
Top Searches - Trending Searches - New Articles - Top Articles - Trending Articles - Featured Articles - Top Members

Copyright 2019 Uberant.com
634,469 total articles and counting.